Telisik

Smart City Heritage in Kota Gede

Kotagede dalam benak yang tersirat adalah kerajinan peraknya yang tersohor. Kotagede menyimpan sejuta sejarah dan peradaban manusia lampau dalam kegiatan sosial, keagamaan, ekonomi, pertanian, Arsitektur, perdagangan dan kemajuan tata pemerintahan yang tergambar dalam tata pemerintahan kerajaan Mataram tempo dulu.

Ada yang menyebut Kotagede sebagai ”The Lost Trail of Mataram”. Ini barangkali semacam rasa gemas mengingat maju dan pentingnya Kotagede di masa lalu, namun kini Kotagede hanya tinggal sebuah kecamatan di pojokan Kota Yogyakarta. Pada masa Sultan Agung, pusat pemerintahan dipindahkan dari Kotagede ke Kerto, Pleret, Bantul.

Pembahasan kota pusaka atau Heritage merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk senantiasa kita galakkan agar peninggalan cagar budaya dan purbakala senantiasa dapat melekat dihati para generasi kita. Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan lima kawasan sebagai kawasan cagar budaya dan menguatkan posisi Kota Yogyakarta sebagai salah satu Kota Pusaka.

Lima kawasan cagar budaya yang ditetapkan adalah Kotabaru, Kotagede, Pakualaman, Malioboro dan Kraton karena kawasan tersebut memiliki keunikan dalam berbagai sisi, salah satunya gaya bangunan di kawasan tersebut. (okezone)

Keagungan dari peninggalan pusaka sejarah ini dapat dilihat secara langsung keberadaannya di Kota gede, Pakualaman, Malioboro, Kraton. Namun dari artikel ini akan kami ulas sedikit lebih dalam berkaitan pusaka di Kota Gede. Struktur suatu perencanaan dan perancangan sebuah kota yang kaya dengan arsitektur islam dan jawa sangat kental dan terasa di kawasa Kota gede. Dengan bangunan yang sangat elok dan tata bangunan yang sangat luhur dengan keberagaman simbol suatu fungsi rumah yang melekat dalam tatanan rumah di jamannya.

Pemerintahan menggabungkan spiritual dan perilaku sosial dalam seni tata kota di kerajaan Mataram merupakan akar yang kental dalam membangun budaya, arsitektur, dan sistem-sistem yang di gunakan dalam penataan tata kota, pengairan, jalan, pedestrian, dan seni taman yang sangat maju tidak terlepas dari akulturasi budaya Arab, jawa dan sistem hindu-islam masih tertanam kuat di tengah masyarakat.

Kita kembali ke jaman sekarang dalam trend saat ini yaitu smart city, apa hubungan kota pusaka dengan smart city di tinjau dari Pengembangan, pengelolaan dan perencanaan wilayah dan kota.

Pengembangan sistem perencanaan dan perancangan wilayah, kota dan kawasan saat ini sudah sebagian besar mengabdopsi teknologi tepat yaitu smart city. Fungsi penerapan ini untuk menggali sistem dan keunggulan pelayanan yang diterapkan dalam mapping, urban, spatial dan transportation, social, culture, agriculture, architecture etc. Setelah mengetahui sejarah bangunan Kota Gede pemerintah membuat perencanaan dan pemetaan untuk membuat sistem pedestrian yang tepat, traffic, tata kota, tata taman, dan tata perumahan yang di petakan agar dapat diketahui secara persis model bangunan, luas dan tipenya agar kedepan semua dapat melihat model, tipe dan sistem pemerintahan, sistem tata kota tempo dulu.

smart city memberikan kemudahan untuk akses sejarah dan seluk beluk tentang kota Gede yang sudah dipersiapkan pemerintah kota Jogjakarta, dengan menggali apa yang sudah saya uraikan diatas. Dengan sistem tata kota yang saat ini hampir seluruh kota di jawa memiliki kemiripan tata kota yang sama, yaitu : Alun-alun, masjid, penjara, kraton/kantor pemerintahan, pasar. Dengan penyebaran dan blok-blok kawasan yang juga tertata dengan apik, terbukti adanya kawasan – kawasan di sekitar kraton tempo dulu. Dengan gambaran ini smart city akan lebih mudah untuk memberikan layanan tata kota, tata taman, tata pasar, tata kawasan dengan sebuah website yang memberikan info yang valid dan lengkap tentang Heritage Kota Gede.

Kotagede dapat dikategorikan sebagai produk akulturasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan unsur-unsur pendukung yang membentuk Kotagede memiliki unsur-unsur percampuran dan kesinambungan (continuity). Keunikannya adalah bahwa percampuran berbagai unsur (Hindu, Budha, Islam ataupun Kejawen) tidak dalam posisi saling ’mengalahkan’, tetapi bersinergi dalam memperkuat keharmonisan ’khas’ Jawa.

Kondisi tersebut diduga kuat terutama karena karakteristik tujuan tertinggi manusia Jawa adalah kebahagiaan (eudaimonia). Etika Jawa mengarahkan manusia pada suatu jalan yang menjamin pengalaman keselamatan dan ketenteraman hati. Manusia Jawa menemukan rasa selamat dalam keselarasannya dengan masyarakat (yang sekaligus berarti bahwa ia juga selaras dengan kekuatan-kekuatan kosmos). Semoga bermanfaat (artikel by kangpoer and rekan photo by Pesona Travel)

Sumber bacaan :

  1. Teknik Perencanaan dan Pengelolaan kota Pusaka. Oleh : Laretna T. Adishakti, Maret 2010.
  2. Kota Pusaka, Yogyakarta Miliki 5 Kawasan Cagar Budaya. Okezone, Desember 2015.
  3. Sekilas Mengenai Tata Ruang Kota Gede Yogyakarta, Fariz Pradipta History and Culture, 2009
  4. Jejak Kejayaan Kotagede. muda.kompas.id, 2016.